Ortu adalah orang yang buat aku ada didunia. Orang yang berjasa dikehidupanku. Orang dibelakang layar yang buat aku mandiri seperti sekarang. Mereka melanjutkan napas yang diberi Tuhan untukku. Tapi...bukan berarti mereka punya hak dikehidupanku.
Mungkin apa yang mereka inginkan baik demi kebaikanku tapi ini hidupku, aku yang menjalaninya, mereka cuma bisa melihat tapi aku yang merasakannya.
Banyak orang bilang kita tidak boleh menyakiti hati ortu, dosa (kata mereka), tapi jika mereka yang menyakiti hati kita, haruskah kita diam? haruskah kita terima dengan lapang dada?
Pernahkah terbesit dihati mereka bahwa mereka itu salah terhadap kita? Jarang sekali ada ortu yang mengaku salah terhadap anak mereka, kadang mereka begitu egois hanya karena status mereka sebagai "ortu kita".
Dan kedudukan kita sebagai anak adalah kewajiban untuk berbakti, membalas budi atas apa yang mereka lakukan selama hidup kita, membahagiakan mereka.
Aku... seorang Dinda yang dari kecil sampai sekarang...selalu dinilai orang lain anak durhaka, anak yang tidak berbakti, anak yang pembangkang, pemberontak, dll hanya karena sering bentrok dengan ortuku.
Bodo amat....cuma itu yang bisa kukatakan. Kamu bukan Tuhan yang berhak menilai diriku. Apa yang kamu tahu tentang aku?
Bagiku manusia adalah sama, punya hak asasi mengeluarkan pendapat, punya hak untuk bersikap.
Aku berhak menentukan jalanku... gak peduli apa kata ortu, walau orang bilang kata2 ortu kita adalah doa buat kita.
Tapi...kini aku cuma bisa diam, tak bergerak, mengalah, demi ortuku. Airmata mereka membuat langkahku terhenti padahal aku ingin berlari. Aku terpasung...
Bukan kehidupan seperti ini yang aku inginkan, sering aku protes kepada Tuhan, kenapa Dia membuat takdir seperti ini kepadaku.
Aku menangis di kegelapan, apa ortuku tahu? apa mereka peduli? apa mereka mengerti?
Tidak.....mereka tertawa diatas air mataku...mereka senang dengan kekalahanku.
Dan jika aku mulai berontak untuk merubah takdirku, apa aku salah? apa aku berdosa? apa aku si Malin Kundang anak durhaka?
Aku cuma ingin hidupku...jadi diriku sendiri...jalani hidup yang kuinginkan. Aku tidak ingin meneteskan air mata lagi. Aku bosan terus menerus meratap ke langit kamar. Aku merasa lelah yang berkepanjangan. Aku bosan tertawa dalam sedihku.
Aku ingin mereka berubah... melunak hatinya... membebaskanku dari doktrin mereka. Semoga mereka bisa mengerti, entah kapan...
Jumat, 30 Juli 2010
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)

6 komentar:
Orang tua yg teladan adalah mereka yang tau membuat hati anak2nya gembira bukan malah sebaliknya.. Just thinking ... ^_^
maaf ya bkn bermaksud menggurui, cuma mau kasih saran aja.. coba deh kmu komunikasikan dengan ortu secara pelan2 dan baik2, dan jgn pake emosi.. aku yakin koq mereka akan lunak sama kmu selama kmu bs menjaga sikap di depan mereka.. :)
Semoga masalahnya cepat terselesaikan. Setuju semua pendapat diatas. Nanti kalau "Dinda" sudah menjadi orang tua, baru bisa merasakan
tetap semangat sahabatku, berbeda pendapat dengan orang-tua bukanlah membangkah.tidak menurut, karena bagaimanapun juga kita harus menjadi diri kita sendiri. Salam
Mungkin Dinda membutuhkan mediator. Ada ngga anggota keluarga yang Dinda percaya untuk menjadi penengah?
http://thehappyfamilies.blogspot.com
ya ak jg korban org tua, tp bginilah hdup byk cobaan ttp hrus mghormati mrk, nnti yg benar akn hdir sndiri it pasti :)
bajuqueen.com
Poskan Komentar