Ruang Kosong
Ruang itu kosong. Sepi tanpa penghuni. Sedang ketuk-ketukan pintu itu telah menggema berkali-kali. Sayangnya, aku tak juga bersedia membukanya, sekedar bertukar sapa atau persilahkan sejenak duduk di halaman. Kosong itu begitu aku nikmati. Sengaja aku biarkan percuma tanpa ada penghuninya. Sebenarnya jiwaku meronta, inginkan seseorang datang untuk aku persilahkan. Namun aku terlanjur dalam beku, dalam ketakutan. Tentang kedatangan yang hanya akan ciptakan kepulangan setelahnya, tentang kebersamaan yang hanya akan lahirkan perpisahan, juga tentang harapan yang kelak akan dijatuhkan. Sepi ini benar-benar aku nikmati. Sedang mereka yang ingin sekali menemani, hanya aku biarkan berdiri menanti senyumku di balik pintu. Sebagian dari mereka ada yang bertahan, tetap setia menunggu di depan pintu. Namun sebagian lagi, mereka yang lelah menunggu memilih pergi tidak lagi mengetuk pintu. Mereka bosan dengan keterdiaman yang aku ciptakan. Mengapa ruang itu masih kosong? Tidak bisakah ru...