Postingan

Menampilkan postingan dengan label puisi sedih

Ziarah

Gambar
Kujejakkan langkah kaki menapak tanah Menyisir bebatuan tajam yang hiasi jalanan Sesekali debu kotor menerpa kulit pucat wajahku, bersama sinar matahari yang membakar kesusahanku Disepanjang jalan, aku disapa dengan kemunafikan Langkah-langkah ku seirama dengan penghianatan yang mereka tawarkan Aku merintih, tapi tak lagi diperdulikan... Aku menangis, tapi tak lagi diperhatikan... Bahkan teriakan yang hampir memutuskan pita suaraku pun, tak lagi di dengar oleh mu Aku... yang katanya adalah ujung hatimu Tapi kesakitanku menjadi hiburan bagi keangkuhan mu Aku... yang katanya bagian dari dirimu Tapi harapanku dipupuskan oleh keegoisan mu Untuk keberapa lama kesedihan ini kuderita? Bukankah aku telah cukup membayarnya dengan banyak air mata? Engkau yang telah lama hilang dari pandanganku...

Nisan Tanpa Nama

Gambar
Ilalang tertegun mendekap dalam dendang sunyi Rumput melirik iri hingga gumamnya jelas pada telinga ini Mengapa tautan dengki tak akan pernah sirna walau parau? kala diri dalam harap basuh dahaga pada kemarau Legakan nafas dalam kemelut Mendung bergelayut pada cakrawala basuh raga Derainya membawa jasad tersapu pada semilir bayu, hingga sejenak lupakan resah asa Jika dirimu ingin berpaling maka lakukanlah, walau setitik tak engkau sisakan tempat untukku Aku akan tetap tersenyum walau hanya guratan bayang semu Hingga keluh hinggap pada hati yang kian membatu Jika kisah kita tak akan terasa pada masa Maka tiada diriku akan semakin nyata Aku tak akan mengumpat walau jalan dan pintu hatimu semakin tertutup rapat Cukup... jangan diteruskan lagi karena senyum siksa ratap nurani yang engkau tawarkan hati Dan akhirnya... akhir yang tiada berakhir akan kian menjadi Biarlah kemunafikan singgahimu dan hinakan aku Sejatinya binarmu akan menutup mataku yang mulai lelah...

Rembulan di Atas Pusara

Gambar
Bumi ini tak ada tempat buatku, dan matahari pun tak rela berikan sinarnya untukku Tempatku hanya di kegelapan, tanpa cahaya, hitam kelam, sendirian Tiap pagi berharap jantung terhenti, atau menghilang di sapu angin Tidak kamu atau pun mereka yang bisa rangkai kembali hatiku Rasa sakit ini sungguh tak terperi Teriris sampai tak berbentuk lagi Pola yang sama, orang yang sama, kisah yang sama Tidak bosankah kalian menikmati air mata ini? Dan pada akhirnya tetap sama, tidak berbeda Tak ada ujung pada kisah yang ku renda Hingga pena yang ku torehkan pada kertas kehidupan hampir penuh, tetap saja tidak ku temukan cinta sejati yang mengandung arti

Tangisan Yuyun

Gambar
Tangis Yuyun Kepada Ibunya Ibu, sempat terdengarkah suaraku? Kupanggil berkali-kali namamu Saat belasan orang memperkosaku yang ingin kulihat hanya wajahmu "Ibu, tolong aku.." "Ibuuuuuuu, ibuuuuuuu...." Kuteriakkan lagi dan lagi Saat aku takut Saat aku sakit Saat aku menjerit Saat aku menangis sejadi-jadinya Siang itu 2 April hari sabtu Dari sekolah kubawa bendera Tugasku mencucinya di rumah Untuk hari senin upacara

Nyanyian Merdu Berbisa

Gambar
Suara indah penuh sumpah serapah Kata-kata bijak terangkai fitnah Senyum manis mengandung racun berbisa Keberadaannya pancarkan panas neraka Jangan mendekat, menjauhlah Biarkan aku berjalan dengan obor hatiku Sendiri menyusuri jalanan lenggang, dimana awan hitam payungi diri dari kerapuhan Dimana cinta? Yang harusnya lindungi diri ini dari nyanyian merdu berbisa Menghilang seperti biasanya, tak berbekas Dan akupun menjadi terbiasa, sendiri rasai diri Berkaca pada hujan tentang ketulusan Belajar dari angin tentang kesabaran Memaknai keikhlasan dari sebuah jam Menandai hati dengan kekuatan alam

Pada Siapa Aku Harus Marah?

Gambar
Saat aku benar-benar merasa gila Pada siapa aku harus marah? Pada diriku sendirikah? Atau aku harus marah padanya? Lelah dalam kebingungan sendiri Cerita yang membentuk bayangan tanpa jejak Sinar yang tak menerangi semua Gelap ku buang karena hanya menambah lara Halilintar memekik di kedua telinga Memaksa merobek keheningan Hati pun menjadi berantakan Porak poranda ditikam persetan Omongan ego yang membalikkan asa Menjadi sebuah bara yang menghitam legam di jiwa

Terasing di Sudut Malam

Gambar
Tak ada kata Hanya hembusan kelelahan Mencari jawaban pada lembaran kertas hitam Hanya kekosongan belaka Jalan kita telah terputus sebelum dilalui Tak ada warna yang tergores Berharap menghilang tuk jauhkan angan Tak ada lagi kita antara kau dan aku

Kata Tanpa Suara (Tembang Hati)

Gambar
Hujan tiada henti hari ini Seolah langit membaca kisahku Tetes air membasahi wajah ini Seolah ingin membalut hati yang sedang pilu Petir menggelegar dengan gagahnya Menantang amarah yang membara Duhai hujan... berhentilah sejenak aku memohon, agar aku bisa bernapas karena diri ini terlalu letih, memayungi jiwa yang sedang risau, risau pada seseorang yang jauh disana, disana didunia yang tak terjamah oleh angan, anganku yang mencoba terbang tinggi, tetapi terhempaskan begitu kuat olehnya Wajahmu di langit, aku tak bisa menatapnya Napasmu di udara, aku tenggelam Dunia meninggalkanku, matahari pun menghilang Aku tak bisa pergi, dan aku pun tak bisa tinggal

Terbunuh Sepi (Sajak Kegelapan)

Gambar
Aku berjalan sendiri dalam gelap, sendiri tanpa teman Aku menyusuri jalanan sepi Hanya suara angin malam yang terdengar Langkahku berhenti di pemakaman Berderet nisan yang kesepian Mereka sama sepertiku, kesepian...tak ada yang mendengar Hanya kegelapan malam yang mau jadi teman Jangan mencariku... Tempatku dideretan nisan ini Biarlah hati ini membatu, agar tak ada rasa sakit lagi Biarkan aku bersajak menghibur mereka, yang membeku ditanah basah ini Tempat dimana mereka dicampakkan dunia

Hujan di Hati Semalam

Gambar
Aku lupa cara menuang rasa pada secangkir kopi, yang kau pesan dengan isyarat perpisahan pasti dan perlahan beku di pelupuk anak kerinduan, kau cairkan menjadi hujan yang tak terpetakan, dengan gaduh yang tak lebih riuh, dari diam yang kau tinggalkan bersama waktu yang biru, atau temaram lampu yang kian redup menjadi sepi, yang ditepian sebelah mana aku berdiri, tak jua aku mampu mengenali... Biarkan kupejam mataku, dimana anak darah menetes darinya, lalu mengalir di tengah embun pagi yang mengerumun pada jendela kaca, lalu memilih untuk pergi saat matahari mulai meninggi....