Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2017

Mencari Jalan Pulang

Gambar
Kita bukan penduduk bumi, kita adalah penduduk surga
Kita tidak berasal dari bumi, tapi kita berasal dari surga
Maka carilah bekal untuk kembali ke rumah, kembali ke kampung halaman
Dunia bukan rumah kita
Maka jangan cari kesenangan dunia

Kita hanya pejalan kaki dalam perjalanan kembali ke rumah-Nya
Bukankah mereka yang sedang dalam perjalanan pulang,
selalu mengingat rumahnya,
dan mereka mencari buah tangan untuk kekasih hatinya yang menunggu di rumah?

Lantas….
Apa yang kita bawa untuk penghuni rumah kita, Rabb yang mulia?
Dia hanya meminta amal sholeh dan keimanan,
serta rasa rindu pada-Nya yang menanti di rumah
Begitu beratkah memenuhi harapan-Nya?

Kita tidak berasal dari bumi
Kita adalah penduduk surga
Rumah kita jauh lebih Indah di sana

Kenikmatannya tiada terlukiskan
Dihuni oleh orang-orang yang mencintai kita
Serta tetangga dan kerabat yang menyejukkan hati
Mereka rindu kehadiran kita
Setiap saat menatap menanti kedatangan kita
Mereka menanti kabar baik dari Malaikat Izrail
Ka…

10 Tahun Aku Membencinya, Tetapi Sepanjang Sisa Hidupku Aku Mencintainya

Gambar
Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Setelah menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia la…

Masamah Bebas dari Hukuman Mati di Arab Saudi, Setelah Proses Hukum Selama 8 Tahun

Gambar
Bagi Masamah Binti Raswa Sanusi, tanggal 13 Maret 2017 menjadi hari yang bersejarah dan tak terlupakan dalam hidupnya. Karena di tanggal itu, dirinya dinyatakan bebas oleh Hakim Pengadilan Tabuk.

Alkisah di tahun 2009, WNI asal Cirebon ini ditahan di Penjara Tabuk, Arab Saudi, atas dakwaan membunuh anak majikan yang berumur 11 bulan. Sejak saat itu, Masamah yang baru 7 bulan bekerja di rumah majikannya, terpaksa harus merasakan dinginnya tembok penjara.

Masamah sempat divonis hukuman kurungan selama 5 tahun, namun Jaksa Penuntut Umum menyatakan banding yang kemudian dikabulkan oleh Mahkamah Banding. Selanjutnya Mahkamah Tabuk kembali menggelar persidangan atas kasus Masamah hingga tahap akhir persidangan.

Sejak kasus ini bergulir, majikan atau ahli waris korban, bersikukuh menuntut Masamah dengan hukuman mati qishas. Hasil sidang pada tanggal 26 Februari 2017 menetapkan, bahwa sidang yang digelar 13 Maret 2017 sedianya menjadi tahap pembacaan vonis terhadap terdakwa. Namun, Hakim ter…

Antara Wortel, Telur, dan Kopi

Gambar
Seorang gadis mengadu pada neneknya, berkeluh kesah tentang kehidupannya yang dirasa amat berat. Gadis itu tidak tahu bagaimana dia akan melalui semua itu, dan merasa ingin menyerah saja. Dia merasa lelah berjuang, dan menderita dalam kehidupan ini. Jika satu masalah teratasi, maka akan timbul masalah baru.

Neneknya mengajak cucunya menuju dapur. Diisinya tiga buah panci dengan air, dan direbusnya air itu dengan api yang besar. Begitu semua air mendidih, dia masukkan wortel pada panci pertama, telur pada panci ke dua, dan butiran kopi di panci terakhir. Mereka menunggu sampai ketiga air di panci kembali mendidih.

Dua puluh menit kemudian, kompor-kompor dimatikan oleh sang nenek. Wortel dikeluarkan dan diletakkannya di sebuah piring. Begitu juga dengan telur dan kopi diletakkan dalam piring dan gelas berbeda. Sang nenek memandang cucunya sambil berkata: ”Katakan, apa yang kamu lihat”. Cucunya pun menjawab: “Wortel, telur, dan kopi”.