Pos

Rumah di Atas Awan

Gambar
Apa kabarmu di hari pertama kita berpisah?
Pasti kamu akan baik-baik saja,
tidak sepertiku yang terus berurai air mata
Kamu akan mantap melangkah ke depan,
sementara aku semakin mundur ke belakang

Saat membuka mata di pagi ini,
aku berharap semalam hanyalah mimpi buruk
Saat aku melihat apa yang ada di hadapanku,
ternyata semua adalah benar adanya
Kisah kita benar-benar telah usai,
tak terukir lagi nama kita berdua

Apa kamu tahu say...
aku bingung apa yang akan aku lakukan hari ini
Semua hal mengingatkanku padamu
Semua aktifitas harianku selalu berkaitan denganmu
Tak ada yang luput dari nama dan sosokmu
Jadi katakan padaku, aku harus lakukan apa untuk bisa melupakanmu?

Aku terbiasa mendengar suaramu
Aku terbiasa bercerita padamu
Aku terbiasa diperhatikan dan dicintai olehmu
Aku adalah kamu, dan kamu adalah aku
Sedangkan kini.... aku sendirian

Sudah aku putuskan, aku akan membangun rumah diatas awan!
Rumah mungil milik kita berdua
Dimana disana menunggu dua anak kecil yang menanti kita…

Waktuku Telah Habis

Gambar
Aku tak punya kenangan,
untuk membuka percakapan
Hanya ada bunga yang terus tumbuh,
sementara kesempatan sudah mulai lumpuh

Di manakah diriku?
selain memudar dalam fiksi-fiksi yang gagal
Aku tak menemukan kuburku di setiap rumah
Pikiranku menjadi hantu, tak bisa kembali ke mana-mana

Lihatlah, betapa banyak yang mereka ambil dari diriku
Aku bahkan tak bisa memiliki airmataku sendiri,
yang meluncur deras dan menenggelamkan seluruh kota

Waktuku telah habis
Aku belum mengucap kata perpisahan padamu
Aku telah mengingkari janjiku
Aku telah mengundang derai untukmu

Waktuku telah hilang,
padahal kau setia mendampingiku
Meski harus tragis,
aku harus menghilang dari nyata

Maafkan atas ketidakwarasanku...
dimana aku lebih nyaman menyentuh dinding tembok yang dingin, daripada memeluk hangat tubuhmu
Maafkan atas ketidakwarasanku...
dimana aku lebih menikmati mengecup duka, daripada mengecup lembut bibirmu
Maafkan atas ketidakwarasanku...
dimana aku lebih memilih hidup dalam ilusi bersama bayangan…

Ajal

Gambar
Hidup adalah rangkaian waktu. Waktu demi waktu terangkai menjadi satu, diberikan kepada setiap manusia sebagai ajal. Itulah tenggat waktu yang diberikan oleh Allah kepada kita. Ketika tenggat waktu yang diberikan telah berakhir, maka tak satupun yang bisa meminta ditangguhkan.

Karena itu tanpa terasa, setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, dan tahun berlalu, saat usia kita bertambah, sesungguhnya ajal kita semakin dekat, karena terus berkurangnya detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, dan tahun.

Saat ajal itu tiba, apakah kita sudah siap? Menyiapkan apa yang akan kita bawa menghadap kepada-Nya. Pernahkah kita menghitung berapa lama waktu yang kita gunakan untuk maksiat, dan berapa yang kita gunakan untuk taat? Padahal kita hitung atau tidak, yang pasti Allah Maha Tahu, dan Malaikat pun telah mencatatnya, sehingga kita pun tak kuasa untuk mengelaknya.

Rangkaian waktu yang kita lalui lebih berharga dari emas, perak, kedudukan, atau apapun yang kita miliki. Jika kita tidak bisa…

Kasih Tak Sampai

Gambar
Kuseret langkah dengan daya yang sekedarnya
Mencoba menutup luka yang segar menganga
Selintas kenangan, maka bertambah satu sayatan
Duka yang entah dimana tepinya

Pengorbanan yang kerap di abaikan
Perjuangan yang kosong tak berbekas
Ketulusan dibalas basa basi menyesatkan
Kesucian yang di rampas penghianatan

Tak akan kupaksakan untuk menghapus tragedi merah itu
Biar saja semua tetap ada di halaman terdepan ingatanku
Supaya jelas terbaca saat aku lupa
Kasihku tak sampai, bahkan tak setengah jalan

Waktu terus berputar teratur sesuai kehendak-Nya
Ukiran-ukiran kisah semakin rapi tertata
Indah disaksikan saat dua mata kita saling berpaut
Namun satu tujuan tak sempat di ikrarkan bersama

Saat jatah waktu telah usai untuk kita
Tak ada lagi kisah yang terkisahkan
Saat langkah tersisa satu hasta
Kasih kita ternyata tak pernah sampai
Mohon di maafkan untuk mulutku yang tak kesatria

Hanya bisa seperti ini...
Aku hanya bisa melihatmu dari jauh saja
Aku tak berani menggapaimu

Sejatinya melihatmu …

Sekarat

Gambar
Saat embun pagi bangunkan tidurku
Aku berharap mentari tersenyum menyapaku
Membawa kabar baik tentangmu di sana
Obati resah jiwaku sejak semalam

Saat mentari tersenyum bersinar
Aku berharap telaga hatimu tak akan pernah mengering
Basuhi gundah yang tak jua sirna
Memikirkan yang terkasih untuk sebentuk harap dan rasa

Pernahkah engkau tahu apa yang saat ini kurasakan?
Ada sesuatu yang tak biasa dalam diri ini
Kehadiranmu basuhi relung jiwaku yang lusuh melepuh
Denyutkan kembali irama nadiku yang telah biru membeku

Engkau bintang kecilku
Yang gemerlapi gelapnya malam langit hidupku
Tetaplah bermain di taman hatiku,
hingga jiwa yang gundah ini merasa tentram
Diri ini teramat rapuh tanpa hadirmu

Mengapa getaran rasa begitu dalam?
Membuat hati sakit tertorehnya
Mengapa jiwa ini teramat rapuh?
Membuat rindu selalu datang menggoda rasa

Lusuhan harap yang menggebu,
merintih dalam kalbu... membiru
Onggokan keinginan kusam,
menyusup dalam kelam... terdiam
Sakit yang teramat sangat
Menyesak dala…

Pita Biru Itu...

Gambar
Ada seorang gadis yang selalu mengenakan pita biru pada lehernya, tak peduli siang maupun malam, cocok ataupun tidak dengan pakaiannya, ia selalu mengenakan pita biru tersebut. Gadis itu bernama Jingga.

Ia memiliki teman akrab sejak kecil, ia bernama Hendra. Hendra hampir tak pernah melihat Jingga tanpa pita biru di lehernya.

Berkali-kali Hendra bertanya, berkali-kali pula Jingga menolak memberitahunya.

Waktupun telah berlalu, Hendra akhirnya melamar Jingga, lalu menikahinya.

Di hari pernikahannya itu Hendra kembali bertanya lagi pada istrinya yang cantik jelita itu, tentang pita biru di lehernya.

Sang istri terdiam sejenak, lalu dengan berlinang airmata ia menjawab:

"Kita sudah berbahagia selama ini, apakah ada bedanya..?"

Hendra berhenti bertanya semenjak saat itu.

Tahun demi tahun berlalu. Mereka berkeluarga dengan bahagia, dan di karuniai dua anak. Hingga pada suatu hari di hari ulang tahun pernikahannya, Hendra kembali bertanya lagi tentang pita biru di leher istrinya.

Missing

Gambar
Terpaku dalam kegundahan hati
Terasa tak dapat ku lawan dengan jari-jari
Tiada lagi tempat yang terasa ada
Hanya lelah...

Andaikan waktu itu tak terjadi
Mungkin hatiku takan remuk seperti ini
Langkahku terhenti dalam kelamnya malam
Mataku terhalang jurang yang dalam
Pendengaranku sayup-sayup tak menentu
Hatiku terombang ambing dalam ombak kemarahan
Ragaku tak berkuasa untuk berfungsi
Mungkin tiada lagi yang dapat terjadi saat ini
Semangatku lemah hatiku susah
Teringat malam yang menyakitkan
Inikah kehidupan?

Kurasa semua bukan seperti ini
Mungkin masih ada titik terang,
yang akan menyinari kegelapan hati
Memberi pujian untuk diri sendiri
Meredamkan semua yang ada saat ini
Hingga aku dapat kembali pada hati yang ingin aku tuju

Yang Terindah

Gambar
Kangen yang tak berujung menghampiri hati
Rindu yang tak berdosa menyambangi jiwa
Apakah cinta ini hanya sebuah fatamorgana,
yang memaksa hati untuk merasa dahaga,
atau sekedar impian semu yang takkan jadi nyata

Terdiam ku di kegelapan malam
Membuat tubuhku tak dapat di gerakkan
Mematung di sudut malam
Angin yang berhembus menyampaikan sejuta kerinduan

Sebenarnya jarak yang aku buat untuk kita,
adalah bukti rasa sayangku terhadapmu
Aku tak ingin melukai hatimu,
tak ingin mengecewakan perasaanmu

Sebenarnya...
Kamu kisah yang terindah dalam hidupku
Tak akan mampu ku hapus sampai ajal menjemputku
Kamu mimpi yang sempurna di hidupku

Kamu hadir membawa warna baru
Kamu obati luka ku tentang masa lalu
Kamu mampu mengubah kehidupanku,
jauh lebih baik dari kehidupan masa lalu

Kamu manusia sederhana yang mampu memberikan cinta yang luar biasa
Cinta yang tak mampu di ungkapkan oleh kata kata
Kamu mendengar apa yang tidak di katakan
Kamu mengerti apa yang tidak di jelaskan

Terimakasih….
Atas seg…

Musuh Dalam Selimut

Gambar
Kuhembus debu yang menutupimu
Entah setebal apa baju yang kau pakai
Tulisan aneh membingungkan aku
Mungkin mataku yang sudah lunglai

Kulihat dirimu berdiri menantang
Namun parasmu mengajak berteman
Ku pandang dirimu luar dan dalam
Hitam dan biru berlabuh malam

Hati manis mulut berbisa
Sepintas kalimat itu memang agak janggal
Memang kalimat itu yang terlontar dari mulutku
Sepenggal kalimat itu tidak lahir dengan sendirinya
Kalimat itu terlontar dari pembicaraan panjang

Indah, menarik, sejuk, dan teduh
Siapapun yang melihatnya kan merasakan
Tatapan akan tertarik
Keindahannya ada pada setiap mata
Takkan merasa bosan
Takkan merasa hampa
Karena kesejukan yang diberikannya
Karena keteduhan yang dirasakan
Hingga yang dusta menjadi benar, yang benar menjadi dusta

Cerita tanpa arti
Makhluk berwajah palsu
Terbiaskan dendam dibalik kebaikannya
Tertumpah pekat kalimat indah penuh caci maki dan fitnah

Tempat yang dulunya bersahabat begitu asing sekarang
Aku, kita, dan mereka yang mengagungkannya

Goresan Kosong

Gambar
Aku terus menulis
Goreskan semua rasa dan asa
Harapkan sebuah kepuasan,
harapkan sebuah makna,
tapi tak kutemukan semua

Lagi-lagi aku hanya menulis sebuah kekosongan
Kosong yang membuat hati tersesak perih

Aku yang selalu merasa kosong
Tak mampu mengungkap rasa
Selalu diam menghadapi semua

Tak ada harapan yang tersisa
Tak ada nada yang tercipta
Lukisan rindu tak lagi ada
Semuanya menjadi hampa

Sunyi ini memaksaku untuk tetap terdiam...