Postingan

The End

Gambar
Sudah 3 hari aku di kota mu. Diam-diam melihatmu dari jauh, berharap kamu melihat ke arahku, agar aku bisa menikmati senyummu dan teduh matamu.
Hari ini sebenarnya sudah kumantapkan diri, untuk menemuimu, mengutarakan semua rasaku, isi hatiku. Tetapi... saat aku membaca status WA mu, aku berpikir lagi, apakah benar jika aku datang menemuimu, apakah benar aku mengutarakan rasaku, sementara kamu dan dia akan merencanakan masa depan cinta kalian. Ah, betapa dirimu begitu puitis mengutarakan rasa cintamu padanya.
Seperti sebongkah batu menimpa kepalaku saat itu, aku tersadar. Kini aku hanya masa lalumu. Aku bukan wanitamu. Aku bukan ujung hatimu. Aku bukan orang yang kamu inginkan mendampingimu sampai ajal menjemput. Aku tidak lagi berhak atas dirimu.
Aku hanya kisah masa lalu mu 8th kemarin...
Janji sehidup semati, janji akan selalu mencintai, janji untuk tidak pernah melepaskan tanganku, janji untuk selalu mendukungku, janji... ah, ada banyak janji yang kamu ucapkan selama 8th kita bers…

Maaf, Aku Lakukan Pelanggaran

Gambar
Sudah hampir lima bulan aku menunggumu pulang.
Menunggumu memilihku untuk menjadi tempatmu pulang.

Sudah cukup lama bagiku untuk tetap di sini,
menanti salam darimu,
salam hangat yang menyambut rasaku padamu.

Aku setia menunggumu, say...
Menunggumu mengucap satu dua kata yang mewakili rasamu padaku.

Ada yang belum tersampaikan,
betapa aku merindukanmu di setiap jengkal masa.

Ada yang tidak mungkin tersampaikan,
betapa aku menyayangimu,
hingga hati ini tak kunjung berhenti mendoakanmu.

Ada yang tidak bisa disampaikan,
aku sangat mencintaimu, say...

Begitu banyak hal yang tidak sanggup aku sampaikan.
Haruskah aku berhenti sampai di sini?
Apakah kini saatnya aku berhenti menunggumu pulang?

Beberapa waktu yang lalu, aku berjanji padamu untuk menjauh darimu.
Bukan selama musim hujan atau musim kemarau,
tetapi untuk sepanjang musim dan sepanjang waktu.
Aku menyatakan hal itu...

Kenyataannya adalah, kebenaran atas apa yang dari dulu hingga kini:
aku tak akan pernah bisa menepati janjiku,
me…

Yang Terakhir

Gambar
Aku tahu harusnya aku pergi, saat kamu memutuskan pergi dari hidupku.
Aku tahu harusnya aku menghapus namaku dari hari-harimu, saat kamu bilang sudah lelah berjalan denganku.
Aku tahu harusnya aku tidak boleh menyebut namamu, mengenangmu, mengharapkanmu, saat kamu mantap melanjutkan hidup tanpa aku disampingmu.

Aku tahu kamu saat ini lebih bahagia, tanpa adanya aku dibalik namamu.
Aku tahu bebanmu kini terasa ringan, hingga kamu merasa melayang di langit, tanpa aku yang selama ini menjadi tanggung jawabmu.

Aku tahu say, sangat tahu...
Tak perlu kamu beri kode, tak perlu kamu tunjukkan, aku tahu semua yang kamu inginkan dariku.
Kamu ingin aku pergi jauh dari hidupmu, tanpa jejak.

Maaf, jika selama ini aku terlalu egois, memaksakan diri, tak tahu malu, berusaha untuk terus berada di belakangmu, menguntitmu, merasaimu, melihatmu dari jauh.

Kini aku sadar, cinta tak bisa dipaksakan.
Sudah takdir jika kisah kita hanya bertahan 8th.
Cintamu kini telah hilang, kamu bukan lelakiku yang dulu.

Cara Membuat Fire Wings ala Richeese

Gambar
Fire Wings Richeese, siapa yang tidak tahu. Sayap ayam super pedas yang lezat ini, sekarang lagi booming dikalangan pencinta kuliner pedas (termasuk saya).

Padahal saya ini adalah pasien penyakit lambung akut, tetapi entah kenapa masih saja suka kuliner pedas, termasuk Fire Wings Richeese. Mulai dari level 1 - 5 alhamdulillah udah pernah nyobain, dan selalu bikin nagih.

Nah, karena saya pencinta Fire Wings Richeese, maka iseng-iseng saya mencoba bikin Fire Wings ala Richeese sendiri. Ternyata rasanya gak kalah dengan Fire Wings Richeese. Sama-sama enak dan pedas. Jika kamu ingin mencoba bikin Fire Wings ala Richeese sendiri, berikut ini resepnya. Simak ya?

Bahan ayam crispy:

6-7 potong sayap ayam1 bungkus tepung bumbu ayam crispy (saya pakai golden crispy)
Bahan saus pedas:

2 siung bawang putih ditumbuk halus5 sendok makan saus sambal4 sendok makan saus tomat3 sendok makan saus barbeque2 sendok makan saus tiram2 sendok makan kecap manis2 sendok makan bubuk cabai1 sendok makan madu6-7 bua…

Senja Orange dan Merah Jambu

Gambar
Pernahkah kamu melihat warna senja di langit yang berwarna orange? Langit senja yang seperti itulah, yang menggambarkan perasaanku padamu. Senja orange itu terasa nyeri sekali. Warnanya membuat aku ingin menangis. Senja orange mendefinisikan sebuah kepergian, tanpa kepulangan. Perpisahan abadi, kematian, rasa pedih.

Coba kamu perhatikan langit saat mulai gelap. Seperti itulah perasaanku padamu. Di satu sisi itu, aku mencintaimu layaknya senja. Aku merasakan pedih menyimpan rasa ini. Aku menahan rindu, sekuat mungkin. Aku membentak hati yang memberontak ingin menemuimu, sekeras mungkin. Aku berusaha berhenti menangis, saat aku tahu kamu kini bahagia tanpa aku.

Iya... aku sesakit ini mencintaimu, seperti raut langit saat senja warna orange.

Tetapi aku pernah melihat warna langit senja yang berwarna merah jambu. Warnanya lembut sekali. Melambangkan warna yang indah, penuh kasih sayang, cantik, juga manis. Di sisi lain, aku mencintaimu layaknya senja warna merah jambu. Hatiku masih berde…

Belajar Move On Dari Sayyid Quthb

Gambar
Dialah Ulama dan Mujahid yang berani mendobrak hegemoni Sosialisme Mesir. Walau kesenangan itu sudah berada di depan matanya. Walaupun tahta sudah siap menampuk tubuhnya. Kursi-kursi dunia itu disediakan untuk Sayyid Quthb, asal ia bersedia mengakui bahwa kedaulatan Islam belumlah final. Bahwa sistem buatan manusia adalah jalan suci. Parlementari merupakan paras molek membangun kejayaan hidup. Namun apa kata Sayyid? Ia menolaknya. Baginya, rasa sosialisme, nasionalisme, bahkan demokrasi lebih pahit dari kehinaan dunia.

Sayyid Quthb menolak menafsirkan kata tauhid hanya sekedar pengakuan lisan bahwa Allah adalah Tuhan. Doktor Sastra dari Darul Ulum ini mempelajari Qur’an lebih mendalam, dan ia menyimpulkan bahwa makna tauhid lebih dari itu.

Baginya tauhid sudah satu paket dengan keharusan menjalankan hukum-hukum Allah (tauhid hakimiyyah) dan menolak bergabung dalam barisan oposisi tauhid. Memaknai tauhid dalam dua jurang antara al-haqq dan al-bathil yang coba disatukan adalah barisan …

Ruang Kosong

Gambar
Ruang itu kosong. Sepi tanpa penghuni. Sedang ketuk-ketukan pintu itu telah menggema berkali-kali. Sayangnya, aku tak juga bersedia membukanya, sekedar bertukar sapa atau persilahkan sejenak duduk di halaman.

Kosong itu begitu aku nikmati. Sengaja aku biarkan percuma tanpa ada penghuninya. Sebenarnya jiwaku meronta, inginkan seseorang datang untuk aku persilahkan. Namun aku terlanjur dalam beku, dalam ketakutan. Tentang kedatangan yang hanya akan ciptakan kepulangan setelahnya, tentang kebersamaan yang hanya akan lahirkan perpisahan, juga tentang harapan yang kelak akan dijatuhkan.

Sepi ini benar-benar aku nikmati. Sedang mereka yang ingin sekali menemani, hanya aku biarkan berdiri menanti senyumku di balik pintu. Sebagian dari mereka ada yang bertahan, tetap setia menunggu di depan pintu. Namun sebagian lagi, mereka yang lelah menunggu memilih pergi tidak lagi mengetuk pintu. Mereka bosan dengan keterdiaman yang aku ciptakan.

Mengapa ruang itu masih kosong? Tidak bisakah ruang itu a…

Kamu dan Puisi

Gambar
Mencintainya bagai menulis puisi.
Ketika ku rajut satu demi satu kata menjadi kesatuan puisi yang utuh,
hatiku bahagia.
Seolah mampu menggenggam langit walau gelap enggan beranjak,
seolah mampu menyelami samudera walau ombak sedang gusar,
seolah mampu mencium rembulan walau purnama belum tiba.
Terlebih ketika aku menuliskan dirinya dalam puisiku,
kata-kata itu menjadi hidup,
menari di hadapanku, dan di atas jemariku.

Seperti itulah diriku mencintainya.
Ketika ku pupuk setiap mili rasa sayang dan kasihku padanya,
hatiku bahagia.
Seolah mampu menghadapi kerasnya dunia hanya dengan menggenggam tangannya,
seolah mampu menatap masa depan bersamanya,
seolah hatinya akan mampu membahagiakanku sebesar aku membahagiakannya.

Aku mencintainya dengan tulusku.
Namun aku lupa...
Aku hanya bisa mencintainya dalam diam,
karena kami kini telah berpisah.
Hanya Allah yang tahu saat aku menangis dan tertawa karenanya.

Aku kehilangan akal, mencintai tanpa memahami hakikat sebuah cinta.
Aku dengan bodohny…

Renungan Kematian

Gambar
Bismillahirrahmanirrahim...
Ikhwah fillah... masih ingat detik-detik ketika kakek, nenek, saudara, teman, atau mungkin ayah, ibu, atau mungkin juga anak, istri atau suami tercinta meregang nyawanya? Pernahkah berpikir apakah yang mereka rasakan ketika ruh mereka meninggalkan raganya?

Agar kita dapat menerka apa yang mereka rasakan kala itu, cobalah kita kembali mengingat raut wajah mereka, ketika detik-detik terakhir sebelum meninggal dunia.

Apa yang dialami oleh mereka saat itu? Dengan siapa mereka berhadapan? Berikut ini kejadian yang dialami oleh mereka kala itu, (kisah ini dituturkan oleh Rasulullah SAW sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dan Ibnu Majah):

إِنَّ الْعَبْدَ الْمُؤْمِنَ إِذَا كَانَ فِى انْقِطَاعٍ مِنَ الدُّنْيَا وَإِقْبَالٍ مِنَ الآخِرَةِ نَزَلَ إِلَيْهِ مَلاَئِكَةٌ مِنَ السَّمَاءِ بِيضُ الْوُجُوهِ كَأَنَّ وُجُوهَهُمُ الشَّمْسُ مَعَهُمْ كَفَنٌ مِنْ أَكْفَانِ الْجَنَّةِ وَحَنُوطٌ مِنْ حَنُوطِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَجْلِسُوا مِنْهُ مَدَّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَجِىءُ…

Menjelma Menjadi Bayangan

Gambar
Kala hujan,
kamu menjelma menjadi bayangan,
yang membayangi pikiranku
Lalu hatiku berkata: hati-hati di jalan!

Kala hujan,
kamu menjelma menjadi bayangan,
yang membayangi jiwaku
Lalu hatiku berkata: jangan lupa makan!

Kala hujan,
kamu menjelma menjadi bayangan,
yang membayangi hidupku
Lalu hatiku berkata: kamulah harapanku!

Semua berubah ketika kamu berkata bukan,
bukan aku yang tepat menjadi bayanganmu

Perasaanku hambar, sedu-sedan
Air mata jatuh seperti derasnya hujan
Suara deras itulah yang membuatmu selalu aku pikirkan

Dan...
Pada detik-detik kehilangan,
kamu begitu tenang
Barangkali kamu terbiasa dengan sepi,
atau lupa cara bersedih...