Rabu, 15 Februari 2017

Orang Islam Yang Diusir Nabi Muhammad Saat Di Akhirat, Siapakah?


Orang Islam Yang Diusir Nabi Muhammad Saat Di Akhirat, Siapakah?

Hari kiamat merupakan sebuah peristiwa yang pasti akan terjadi. Ketika alam dunia sudah berakhir, maka manusia akan dibangkitkan di Padang Mahsyar. Di tempat ini manusia akan berkumpul untuk ditimbang amal baik dan amal buruknya.

Kondisi di Padang Mahsyar digambarkan sangat kacau, dan masing-masing memikirkan diri sendiri. Terlebih matahari saat itu berada 1 mil di atas kepala, sehingga kondisi sangat panas. Beruntung Nabi Muhammad dengan kasih sayangnya memberikan pertolongan kepada umatnya berupa Syafaatnya.

Namun, ada umat Islam yang akan diusir oleh junjungan semesta alam ini. Karena kesalahannya selama di dunia, Rasulullah pun enggan didekati mereka. Siapa orang Islam yang diusir Nabi Muhammad saat di akhirat?

Selasa, 14 Februari 2017

Republik Hoax


Republik Hoax

Alkisah di suatu masa, dan suatu tempat, dimana manusianya bukan manusia, dan ceritanya bukan cerita. Dimana orang menerima saja berita tanpa diperiksa.

Jangan protes, jangan kritik, jangan bertanya, sebab engkau akan dikira merencana makar. Terima saja semuanya, sebab bila tidak maka engkau dianggap berbahaya.

Disana penguasa serba benar dan rakyatnya pasti salah. Cabai naik salahnya rakyat, kenapa tak menanam sendiri. Bahan bakar naik, maka jangan dipakai itu solusinya

Di republik itu, yang menista agama melenggang saja, sementara yang tak melakukan apa-apa tiba-tiba menyandang gelar tersangka. Di republik itu hukum sudah tiada.

Mereka yang teriak cinta negara, adalah yang paling banyak menjual badan usaha milik negara. Mereka yang teriak paling nasionalis, justru yang getol menjual negara.

Komunisme dibiarkan subur, memaki agama disilahkan, asal jangan mengganggu dan mengkritik penguasa. Tetapi pembawa lafadz tauhid langsung diperiksa, alasannya dia berbahaya.

Atas nama demokrasi dan stabilitas negara, ulama dikriminalisasi, para asatidz dijadikan bahan olok-olokan. Sekali bertentangan dengan penguasa, maka siap-siap saja.

Ulama dikekang ingin disertifikasi. Padahal yang mensertifikasi juga tidak bersertifikat, bahkan mungkin awam agama. Di sini negara bermimpi ingin diatas agama.

Sabtu, 11 Februari 2017

Jadilah Aparat Yang Sadar Akhirat


Jadilah Aparat Yang Sadar Akhirat

Jadilah aparat yang sadar akhirat…
Yang sadar bahwa hidup tidak sekali. Kita akan mengalami kematian dan menjalani kehidupan kedua untuk menghadap Allah Yang Maha Mengetahui…
Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan” (QS. al-Jumu’ah: 8)

Jadilah aparat yang sadar akhirat…
Yang sadar bahwa Allah menyaksikan semua yang kita perbuat. Dia mencatat semuanya, meskipun berjuta maksiat, kita melupakannya.
“Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu diberitakan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu” (QS. al-Mujadilah: 6)

Jadilah aparat yang sadar akhirat…
Yang sadar bahwa semua yang kita lakukan akan dihisab oleh Allah… Dia akan menampakkan semua yang pernah kita lakukan, yang besar maupun yang kecil…
"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula" (QS. az-Zalzalah: 7-8)

Selasa, 07 Februari 2017

Shafiyah binti Huyay, Istri Rasulullah yang Keturunan Yahudi


Shafiyah binti Huyay, Istri Rasulullah yang Keturunan Yahudi

Shafiyah binti Huyay (sekitar 610 M - 670 M) adalah salah satu istri Nabi Muhammad SAW yang berasal dari suku Bani Nadhir. Shafiyah adalah putri Huyay bin Akhthab, pemimpin suku Yahudi Khaibar, salah satu Bani Israel yang bermukim disekitar Madinah.

Shafiyyah binti Huyay bin Akhtab bin Sa’yah bin Amir bin Ubaid bin Kaab bin al-Khazraj bin Habib bin Nadhir bin al-Kham bin Yakhurn, termasuk keturunan Harun bin Imran bin Qahits bin Lawi bin Israel bin Ishaq bin Ibrahim. Ibunya bernama Barrah binti Samaual darin Bani Quraizhah. Shafiyyah dilahirkan sebelas tahun sebelum hijrah, atau dua tahun setelah masa kenabian Muhammad.

Menyakini kebenaran Rasulullah

Shafiyah adalah anak kesayangan bapaknya dan pamannya, sebagaimana dituturkan oleh Shafiyah sendiri, yang dikisahkan oleh Ibnu Ishaq.

“Saya adalah anak kesayangan bapak saya dan paman saya, Abu Yasir. Ketika Rasulullah datang di Yatsrib, beliau turun di Quba’ di kediaman Amru bin Auf. Maka Bapak saya, Huyay bin Akhthab, dan paman saya, Abu Yasir pergi di pagi hari, akan tetapi mereka berdua belum pulang meski matahari sudah kembali ke peraduannya.

Tidak lama kemudian, mereka datang dalam kondisi lelah, malas, dan lemas. Mereka berdua berjalan dengan gontai. Saya menyambut mereka dengan ceria, seperti biasanya. Tapi, demi Allah, tidak seorang pun diantara mereka berdua yang menoleh ke saya, ditambah lagi mereka berdua tampak sedih. Tiba-tiba saya mendengar paman saya, Abu Yasir, berkata kepada bapak saya, Huyay bin Akhthab,

“Apakah itu orangnya?”
“Ya, betul,” jawab ayah saya.
“Apa kamu mengenalnya?” tanya paman.
“Ya,” jawab ayah.
“Bagaimana pendapatmu tentang dia,” kata paman.
“Saya akan memusuhinya selama saya hidup,” kata ayah.

Setelah kejadian itu, Shafiyah mengetahui bahwa Rasulullah berada dalam jalan yang benar. Ternyata selama ini, kaumnya tidak memberitahukan tentang Nabi Muhammad kepada Shafiyah, karena faktor kedengkian dan iri hati, bukan karena Nabi Muhammad salah, setelah ada bukti yang nyata pada diri mereka bahwa Nabi Muhammad adalah utusan akhir zaman.