Nisan Tanpa Nama


Nisan Tanpa Nama

Ilalang tertegun mendekap dalam dendang sunyi
Rumput melirik iri hingga gumamnya jelas pada telinga ini
Mengapa tautan dengki tak akan pernah sirna walau parau?
kala diri dalam harap basuh dahaga pada kemarau

Legakan nafas dalam kemelut
Mendung bergelayut pada cakrawala basuh raga
Derainya membawa jasad tersapu pada semilir bayu,
hingga sejenak lupakan resah asa

Jika dirimu ingin berpaling maka lakukanlah,
walau setitik tak engkau sisakan tempat untukku
Aku akan tetap tersenyum walau hanya guratan bayang semu
Hingga keluh hinggap pada hati yang kian membatu

Jika kisah kita tak akan terasa pada masa
Maka tiada diriku akan semakin nyata
Aku tak akan mengumpat walau jalan dan pintu hatimu semakin tertutup rapat

Cukup... jangan diteruskan lagi
karena senyum siksa ratap nurani yang engkau tawarkan hati
Dan akhirnya...
akhir yang tiada berakhir akan kian menjadi

Biarlah kemunafikan singgahimu dan hinakan aku
Sejatinya binarmu akan menutup mataku yang mulai lelah
Hingga nisan tanpa nama akan menjadi peraduan akhir kisahku
Dan kelak hanya kupu-kupu teman diri yang mulai terlupakan

Hingga...
Kisahku menjadi sebuah dongeng
Dan aku hanyalah nisan tanpa nama diantara pusara-pusara tua yang tertinggal
Aku yang pernah membangun taman surga penuh bunga-bunga,
kini hanyalah padang ilalang dengan pohon akasia rapuh menatap diamnya bisu

Anehnya...
Matamu masih saja bercerita tentang keindahan pagi,
atau aku yang ingin kau bawa dalam lantunan doa
Entah serupa gugurnya daun, ranting, dan dahan pohon akasia sebelum benar-benar lenyap dilupakan,
ataukah hanya badai penghantam dan mencabut hingga ke akar tanpa sisa untuk tak lagi ada cerita

Aku tak ingin pulang kemanapun,
karena aku tak lagi punya semesta
Aku tak mau singgah di hati dan hari manapun

Dan...
Kekosongan ini mulai tak bernyawa
Diamku mulai hilang bicara
Aku mulai mendengarkan lagi doa orang-orang sekarat
Aku adalah nisan tanpa nama,
sedangkan kita sudah menjadi dongeng atau mungkin debu terlupa

Komentar