Postingan

Menampilkan postingan dengan label puisi kematian

Irama Kegelapan

Gambar
Malam telah datang Nyanyikan kidung kematian dalam kegelapan Dunia memudar Kekuatan datang dalam kelam Perlahan-lahan aku mulai tenggelam Janji kehangatan sebuah perjalanan belum terambilkan Jiwa yang paling hitam Dosa yang paling kelam Hati yang terlumuri darah Kegelapan yang tumpah Kegilaan memanggil dari tempat tak terjamah Suara kengerian berteriak menyiksa jiwa Takkan bisa lari, takkan bisa sembunyi Jiwa semakin kaku menghilang dalam kegelapan Takkan ada yang bisa menatap dan mendengar Saat tenggelam lebih dalam dan lebih kelam pikiran kian menggila, dan kegilaan menjadi teman sejati

Malaikat Maut Tidak Pernah Tidur

Gambar
Nafasmu yang tak pernah kau syukuri Kini tertahan tanpa kau hindari Detak Jantung yang kau anggap biasa Kini menjadi sangat berharga di tiap detakannya Lembayung wajah kematian kian mendekat Suara tangis bergema menyesakkan dada Namun tiadalah kita mendengarnya Karena telinga tak lagi ada suara Masih ingatkah tentang tangan yang berdosa Sebentar lagi akan menjadi sepotong tulang tak berharga Masih ingatkan tentang wajah yang kau banggakan Sesaat lagi akan terkubur dalam tanah Masih ingatkah akan harta yang kita jadikan raja Sebentar lagi akan mengalun indah menjadi petaka Malaikat maut tidak pernah tidur...

Ruang Hitam

Gambar
Berada di ruang hitam, kosong hanya kesunyian Termenung di pusat gelap, berpikir dan bertanya tanpa terjawab Jalan begitu kejam, air mata tak lagi bermakna Badan gemetar menahan beban, mulut tergetar menahan kata tak terkatakan Ruang hitam siap menelan bersama sisi hitam Perlahan kaburkan pandangan tentang sekitar Suara-suara perlahan menghilang, hanya terdengar hembusan napas seujung bibir

Sejengkal Tanah Menanti Kita

Gambar
Hari ini kita menapak bumi, tertawa dan bersenang hati Kita berjalan dengan angkuh, hingga lupa tanah mencarut Kita lupa sembahyang, kita lupa beriman Iman di dada setipis kulit bawang Hilang di bawa angin dunia fana Hari ini kita tertawa, menghirup nafas dengan congkak Lupa di mana kita berlindung, lupa di mana kita kembali Hari ini kita memakai sutra, bisa jadi esok kita memakai kafan Hari ini kita tidur di ruang mewah, bisa jadi esok kita tidur di liang lahat