Senja Yang Terlampau Tua


Senja Yang Terlampau Tua

Kita berjauhan karena jarak yang telah Allah rencanakan
Cinta ini utuh tak tersentuh
Menunggu waktu kita bertemu,
dibawah langit yang sama kita menatap

Berkali-kali rindu kuhantam
Gemuruh riuh debarannya
Sampai kapan kita dipermainkan jarak
Sampai hati tak lagi menyepi,
atau sampai kaki tak kuat menopang tubuh yang ringkih

Uringku semakin hari tak mampu ku relai
Elegiku merintih-rintih menanyai pagi
Sebab disana embun selalu membasuh wajah hari
Menyentuh kulit verbena warna warni

Ini hanya tentang menunggu yang mengabu
Tentang kita: jarak, waktu, rindu, dan penantian yang menyamar
Dimana cinta terasa hampa
Rindu membeku seakan mati rasa


Pujangga bilang:
Cinta itu banyak ragamnya
Kadang mencumbu hati menumbuhkan bahagia,
kadang melengos pergi tinggalkan sepi,
kadang acuh tak acuh mengundang rapuh

Kata pujangga:
Cinta itu sulit ditebak
Butuh daya yang kuat untuk menjamahnya
Jadi... orang rapuh sepertiku tak boleh menyentuhnya
Aku merajuk, bertanya-tanya, sampai kapan?

Pungkas pujangga:
Cinta membutuhkan masanya,
cinta memerlukan ruangnya,
Jadi jangan dinanti, bersabarlah
Karena dia pasti akan datang, tinggal, dan tiada pergi lagi...

Komentar