Postingan

Menampilkan postingan dengan label puisi rindu

Kotak Kenangan

Gambar
Mungkin asaku mulai padam. Mungkin pula, aku mulai lelah dalam perjalanan panjang ini. Perjalanan yang menitik beratkan pada sebuah rasa, sebuah keinginan untuk memiliki. Walau pada akhirnya, aku atau pun kamu sama-sama membisu. Semesta telah memberikan sepasang sayap untukmu terbang dariku. Begitu, kan? Entah bagaimana bisa semesta yang menjauhkan kita, membentangkan jarak di antara kita, membuat kita tak lagi dapat mengumbar tawa atau sapa dalam kebersamaan yang nyata. Sampai terkadang aku bermimpi untuk menghapus jarak ini. Aku ingin segalanya kembali seperti dulu. Dulu yang indah, dulu yang menyenangkan. Dan sekarang, justru aku terperosok dalam kenangan yang tak akan bisa terulang. Aku tak bisa berbuat apa-apa selain membual untuk diriku sendiri. Di sini, semuanya berbeda. Aku merasa kehilangan mimpi. Tak ada yang sepertimu, sebab memang tak akan pernah ada...

Ijinkan Aku Memikirkanmu

Gambar
Ijinkan aku memikirkanmu Untuk satu kali, dua kali, dan berkali-kali Dari aku terlelap hingga terjaga kembali Dengan memikirkanmu saja, aku dapatkan sebuah kebahagiaan, meskipun kecil dan rapuh Ijinkan aku memikirkanmu, di sela pahit dan sakit ku Dengan memikirkanmu saja, hati ini merasakan ketenangan, walau rentan hilang dan musnah Ijinkan aku memikirkanmu dengan sedikit membayangkan, bahwa kamu akan melakukan hal yang sama denganku Aku memikirkan kamu, sedang kamu memikirkan aku Harapanku demikian, semoga...

Rindu Membiru

Gambar
Nadanya biru Menuntun bulir air mata jatuh Aku tak cukup kuat menahan genangannya Ku pikir, biarlah jatuh bersama rindu Nadanya terus membiru Mengikis tepian rasa yang utuh Membatin, mengakar dalam kepedihan Ku pikir, biarlah sakit bersama rindu Diulang, berulang, tetaplah sama Biru, membiru, rindu...

Kutawan Cintamu di Atas Sajadah

Gambar
Aku rindu cintamu-Mu Tuntun aku di jalan yang Engkau ridhoi Kisah cintaku begitu panjang Tetapi tak sepanjang sajadah ini Lirih lisan merajut doa Melerai jiwa yang tiba-tiba terasa hampa Di atas sajadah aku mengiba Atas rindu yang merayap buai airmata Hati meraung tak berdaya Kala telapak tangan mengadukan lara Mencoba tumpahkan segalanya Hanya meminta pada Allah yang Kuasa Di atas sajadah rindu kutitipkan Derai cinta yang pernah Allah berikan Saat engkau kenalkan aku dengan ikhwan impian Meski jarak terpaut jauh tak terbayangkan Pada-Mu kupersaksikan Inilah aku hamba yang muram Di sepertiga malam memohon petunjuk jalan Jika memang ikhwan itulah sebaik-baik pilihan

Kangen

Gambar
Apa kabarmu say ? Aku harap kamu baik-baik saja, seperti mentari yang masih menghiasi pagi Kamu tahu? hari ini aku sangat rindu Kerinduan yang tak bisa kubendung Dan kembali air mata tercurah, padahal mati-matian aku sudah menahannya selama ini, sejak aku berjanji padamu untuk tidak menangis lagi Seperti menghitung jutaan bintang di malam hari Seperti menghitung rinai hujan yang jatuh ke bumi Seperti menghitung hamparan pasir di pantai ini Disini... ada satu hati yang menunggu, satu jiwa yang terbelenggu Walau kau bukan milikku lagi Walau hatimu bukan untukku lagi Walaupun senyummu hanya untuk dia Aku akan tetap menjaga hati dan cinta ini Hatiku kan selalu memanggil namamu Mataku kan selalu memandangmu Selalu kunanti hadirmu, bersama embun-embun rindu Rasa dan asaku padamu terukir begitu jelas di tulang rusukku, mengalir deras di aliran darahku, memukul keras membuat lebih cepat detak jantungku Dan sedikitpun... kamu tidak mengingatku Semilir angin getar...

Ruang Tanpa Rasa

Gambar
Aku belum menemukanmu di satu waktu yang terencana Aku belum menemukanmu di satu tempat tertentu yang kita sepakati berdua Aku belum mampu menatapmu begitu dalam, seperti dua orang dewasa yang pantas dan siap untuk saling mendekap dan menggenap, serupa Adam dan Hawa yang mulanya ganjil dan kemudian genap Atau barangkali aku hanyalah ganjil yang menggigil di sudut waktu, dan kamu adalah ganjil yang terus-menerus memanggilku Namun, bukan karena aku tak mau menjawab panggilanmu, dan bukan maksudku tak mau bersegera mendatangimu Kita hanya dua insan yang tinggal di kotak kenang, yang hanya bisa saling menyapa lewat bayang-bayang, hanya bisa saling mengenang ditemani kunang-kunang yang riang Akankah suatu saat nanti kita adalah genap yang saling mendekap?

Senja Yang Terlampau Tua

Gambar
Kita berjauhan karena jarak yang telah Allah rencanakan Cinta ini utuh tak tersentuh Menunggu waktu kita bertemu, dibawah langit yang sama kita menatap Berkali-kali rindu kuhantam Gemuruh riuh debarannya Sampai kapan kita dipermainkan jarak Sampai hati tak lagi menyepi, atau sampai kaki tak kuat menopang tubuh yang ringkih Uringku semakin hari tak mampu ku relai Elegiku merintih-rintih menanyai pagi Sebab disana embun selalu membasuh wajah hari Menyentuh kulit verbena warna warni Ini hanya tentang menunggu yang mengabu Tentang kita: jarak, waktu, rindu, dan penantian yang menyamar Dimana cinta terasa hampa Rindu membeku seakan mati rasa

Lembah Tak Bermadu

Gambar
Hitam kelabu malam Meringsut tebalnya awan menjerat suram Jerit sorak menghantar Teriak air mata turunkan kelam Detak nafas menyeruak mengarak jiwa Langkah desah mimpi tak berlalu Terus membekas di ujung pilu Luluh derai air mata menguntai di setiap jerit Kau kokohkan tulangku dengan air kesombonganmu Kau alirkan darahku dengan air durjamu Kau hidupkan harapanku dengan kemunafikanmu Kau bangun masa depanku dengan bait lantunan untaian celotehmu

Pesan Dalam Botol

Gambar
Apa kabarmu? Masihkah kau mengingatku, seperti aku yang selalu teringat padamu? Mungkin kau sudah lupa pada semua janjimu padaku, padahal aku ingat kata demi kata janji yang kau ucapkan padaku Dimana dirimu sekarang? Apakah masih ditempat kita merenda rindu, ataukah ditempat labuhmu yang baru? Jangan menatapku dengan matamu yang kosong, karena hatiku akan semakin gelap tanpa cahaya matamu Kenapa kau biarkan aku berjalan menyusuri hari yang lenggang sendirian? Tanpa peta yang biasanya kau siapkan agar aku tak tersesat

Bercengkrama Atas Nama Sepi

Gambar
Adalah malam-malam tanpa lawan bicara yang akhirnya memaksaku bercengkrama kepada kesepian yang menjadi satu dengan sendiriku Menulis kata-kata tanpa makna sekedar menjadi teman untuk membangun keramaian Ingin lebih dalam aku menyerahkan diri kepada sastra tetapi kehidupan tanpaknya memaksaku untuk menggali lebih dalam makna-makna yang Dia sembunyikan Maka aku bersama beberapa gelas kopi datang kepadamu didalam pikiranku kita bercengkrama atas nama sepi Aku indung segala rindu yang tahan segala uji dan menolak segala puji

Sebuah Masa

Gambar
Ini hanya tentang sebuah masa masa di mana aku tertawa dalam duka masa di mana aku menangis dalam bahagia masa di mana aku terlelap dalam jaga Ini bukan sekedar sebuah masa masa di mana aku menemukan sahabat masa di mana aku menemukan kerabat masa di mana aku menemukan kamu yang terhebat Ini akan menjadi sebuah masa masa yang tak akan pernah terlupa ketika aku mulai kehilangan asa ketika aku mulai menghilang dalam rasa tapi dirimu selalu merangkulku dalam harap

Lewat Tengah Malam

Gambar
Aku sangat mencintai malam dan kegelapan Di ujung malam bersisian gundah aku masih saja menggumuli pekat Dalam buaian desir lewat terpa sang angin Kesunyian pun kian menampar hati Ada yang kurasa saat malam hadir Ketika keterpurukan menghantui hati Dirimu hadir lewat bayang Lintasanmu merajai sukmaku Malam kian pekat membahana Terengkuh kesunyian dalam hamparan Mencabik lara dalam sekam kerinduan Mencoba menjarahmu namun hampa

Ini Rindu

Gambar
Rindu adalah tali yang tak pernah putus Merentang di tiang hati, di tiang mimpi Kadangkala di singgahi burung yang mengelakkan kabut pada pagi dingin yang mengaburkan sinar matahari Rindu adalah tiang yang tak pernah tumbang Tegak dilorong kehidupan, disepanjang labuh usia Disitu tergantung lampu kenangan dan ingatan Biarpun hari semakin tua, dan kelam sudah bermula Rindu adalah lorong yang tak pernah tertutup Dari musim ke musim ia menjadi laluan pengembara yang mencari cintanya yang hilang Disitu rumput yang telah lama bertukar warna Bunga dan daun silih berganti segar dan kuncup